 |
| Port Gili Air |
Sudah
tahu saya ke Gili apa dalam perjalanan kali ini?, ya saya ke Gili Air. Mengapa Gili
air? Memilih Gili apa yang akan kita kunjungi haruslah sesuai dengan karakter
dan kondisi kita, karena perjalanan saya adalah Solo Travelling dan tujuan saya adalah mencari tempat yang tenang
maka Gili Air adalah tempat yang cocok menurut saya.
 |
| Port Padangbai, Bali |
Akses ke Gili dapat kita tempuh melalui Pulau
Lombok/Mataram dengan melalui port
Bangsal, dan Bali melalui Port
Padangbai. Perjalanan saya dimulai dari Bali dengan membooking tiket fastboat di Wahana Travel, harga tiket
sebesar Rp. 440.000 untuk perjalanan pergi-pulang, atau Rp. 350.000 untuk
sekali jalan. Kita akan diminta memilih ingin berangkat jam berapa, dan dijemput
dimana, layanan free pick up service
jika daerah hotel kita berada di daerah Sanur, Seminyak, Kuta, dan jalan besar
Ubud, untuk daerah selain itu kita perlu menambah sebesar Rp. 50.000 per orang.
Kita akan dijemput pada pukul 06.00-07.00 untuk keberangkatan pukul 09.30, dan
10.00-11.00 untuk keberangkatan jam 13.00, sebaiknya kita sudah bersiap sebelum
jam penjemputan karena harus share suttle
dengan wisatawan lain. untuk jam kembali dari Gili terdapat 2 pilihan, jam
10.30 dan 15.00, sesampainya di Port Padangbai, kita kan dipersilahkan untuk Check in dan ditukarkan stiker yang
menunjukan tujuan Gili kita.
 |
| Gili Air |
Perjalanan dengan fastboat dari Port Padangbai (Bali) ke
Gili Air memakan waktu 1,5 jam, sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan
pulau-pulau kecil dan laut yang biru, untuk pulau pertama yang akan disinggahi
adalah Gili Trawangan, Gili Meno, lalu Gili Air. Sesampainya di Gili Air,
jangan berharap kita akan dijemput dengan mobil mewah atau taksi, disini kita
hanya bias berjalan kaki atau menggunakan kendaraan tidak bermotor seperti
sepeda dan Cidomo (telah saya tulis di blog sebelumnya). Tapi tenang saja,
penduduk di Gili Air sangatlah ramah, untuk solo
traveler seperti saya, mereka sangat welcome
dan tidak jarang menjadi teman ngobrol saya selama di Gili Air.
Gili air memiliki suasana yang tenang, pulau dikelilingi
oleh Villa, Bungallow, dan café dengan nuansa khas rumah pantai,
sesampainya di Hotel Saya, Balengku Dua (akan saya review di blog selanjutnya), saya memesan sepeda sebagai alat
transportasi saya selama di Gili Air, dengan membayar Rp. 40.000 per hari. Seperti
anak-anak yang melihat permen, saya mengelilingi pulau di hari yang cukup terik
hingga sunset, bahkan sampai lupa
menggunakan sunblock. Sesampainya di
bagian barat pulau Gili Air, saya mendapati banyak kelompok wisatawan yang
sedang duduk, yoga, ataupun meditasi sambil menunggu sunset yang sangat bersih dan indah.
 |
| Suasana Sunset di Gili Air |
 |
| Pemandangan selama perjalanan |
Gili air cukup sepi pada malam hari, tidak banyak ‘party’,
hanya ada sebagian bar yang mengadakan live
music atau DJ untuk wisatawan, untuk wisatawan lokal mungkin kita akan
sulit untuk mendapatkan makanan Indonesia, malam ini saya makan sepiring besar Spaghetti Bolognasie dengan segelas jus
apel dan salad.
 |
| Air laut Gili yang jernih |
 |
| Sunrise di timur Gili Air |
Pagi di Gili juga terasa luar biasa, Pukul 05.30, Sunrise sudah menghiasi bagian Timur
dari Gili Air, jogging pagi sambil mendengarkan musik favorit menjadi pilihan
saya, udara segar tanpa polusi membuat oksigen yang kita hirup benar-benar
murni. Banyak kegiatan yang dapat kita lakukan di Gili, berenang dengan laut
yang biru, snorkeling, diving, duduk
di café sambil mendengarkan musik, atau memuaskan jiwa Photography anda, karena begitu banyak spot yang instagramable
untuk diabadikan, berikutnya saya akan mereview hotel yang saya tinggali selama
di Gili Air. see you on the next blog.
Instagram @HolimanChandra
0 Komentar